Eceng Gondok di Sungai Sinre’jala

Foto: Nurul Ekha Hudaya

Eceng gondok adalah pemandangan biasa di sungai-sungai kota. Kota dengan segala polusinya, termasuk di sungai yang dihuni banyak sampah, mendukung pertumbuhan tanaman ini. Sungai berlumpur dengan aliran yang tenang karena terhambat sampah-sampah menjadi tempat yang baik bagi pertumbuhan eceng gondok.

Eceng gondok secara umum dianggap sebagai gulma. Meski anak-anak kecil bisa saja melihat tumbuhan ini sebagai penghias sungai, serupa teratai. Eceng gondok dengan nama Latin Eichhornia Crassipes juga memiliki penyebutan yang berbeda di berbagai daerah, seperti dalam bahasa Makassar disebut capo-capo.

Eceng gondok adalah tanaman hidrogami, atau penyerbukannya dibantu oleh air. Selain itu, proses pertumbuhannya sangat cepat dan mudah menyebar menutupi permukaan air, oleh karena itu tanaman ini termasuk gulma yang dapat menghambat oksigen dalam air sehingga mengganggu kehidupan ikan.

Tanaman air ini juga menjadi penyebab pendangkalan sungai. Eceng gondok yang mati akan layu dan tenggelam, menumpuk di dasar sungai. Selain itu, permukaan daun eceng gondok yang lebar akan mempercepat penguapan dan mengurangi volume air.

Foto: Ekha

Foto: Ekha Nurul Hudaya

Pertumbuhannya yang cepat juga mengganggu lalu lintas air. Seperti yang diutarakan Ibu Milani yang saya temui di depan rumahnya yang langsung menghadap ke sungai. Kadang ada perahu kecil yang menjala ikan di sungai dan langsung dijual di rumah-rumah pinggir sungai, tapi itu kondisional, karena jika sungai tertutupi eceng gondok, nelayan sungai tidak bisa lewat. “Biasanya ada orang menjala di sini baru na jual mi dekat-dekat sini. Kalau tertutup kieceng gondok kayak begini, lewat saja tidak bisa,” terang Ibu Milani. Jenis ikan yang biasanya terjala adalah ikan nila, ikan gabus, dan ikan air tawar lainnya.

Perlakuan warga terhadap sungai bervariasi di lingkungan dan rukun tetangga yang berbeda. Dian misalnya, warga berusia 27 tahun ini mengaku telah tinggal di Jalan Sukamana sejak lahir. Beberapa tahun terakhir, warga Jalan Sukamana membayar iuran kebersihan untuk mobil pengangkut sampah, warga diarahkan untuk tidak membuang sampah di sungai. Dian yang sehari-hari memulung mengakui, bagaimanapun sungai tetap saja membawa sampah dari hulu.

Di antara Jalan Sukamana dan Jalan Saleh Yusuf, bermuara kanal yang dialiri air comberan rumah tangga yang berwarna hitam pekat, sehingga jika dilihat, ada batas warna antara sungai dan kanal.

Lain lagi dengan warga di Kelurahan Paropo, Kecamatan Panakkukang, tepatnya Jalan Ketapang 2 yang dipotong Jalan Meranti. Saya bertemu dengan Bapak Mansyur yang sudah sepuluh tahun bermukim di Jalan Ketapang 2. Sebelumnya Pak Mansyur, yang akrab disapa Ance ini lahir dan besar di Jalan Batua Raya. Sehingga sejak kecil, secara kebetulan tempat tinggal Pak Ance tidak pernah jauh dari Sungai Sinre’jala.

Dari penuturan Pak Ance, sudah biasa warga membuang sampah di sungai, tapi hanya berupa satu dua sampah yang bisa langsung dihanyutkan ke sungai. Tapi untuk sampah dengan jumlah banyak yang dikumpulkan, akan dibakar di belakang rumah dalam lubang tanah. Pernah beberapa kali Pak Ance berencana untuk mencari peluang usaha di sungai, seperti menambak lele, tapi Ph air tidak cocok dan eceng gondok lebih sering menutupi permukaan sungai. Pak Ance menambahkan, jika ia jadi memelihara lele di sungai, tentu saja akan terganggu oleh eceng gondok.

Senada tentang urusan sampah, Bu Fitrani yang tinggal empat rumah dari Pak Ance mengatakan jika warga sekitar memilih membakar sampah jika dalam jumlah yang cukup banyak. “Kalau sampah kecil-kecil di jalanan turun mi ke sungai, tapi sampah yang dikumpulkan kita bakar. Satu minggu ada tiga kali,“ tambahnya.

Terus-terus dari Jalan Ketapang, saya sampai di Jalan Meranti dan bertemu Ibu Milani. Saya mendengar hal yang berbeda dari Ibu Milani. Katanya, di lingkungan RT-nya rutin diadakan kerja bakti. Tapi hal yang sama adalah Ibu Milani juga terbiasa membakar sampah, di bantaran. Ibu Milani yang sudah memiliki sepasang anak, mengaku tidak tahu lagi bagaimana sungai agar enak dipandang, karena mau bagaimana, sampah-sampah terus terbawa aliran air dan menyempil di antara eceng gondok.

Tidak banyak yang tahu, ternyata tumbuhan gulma berdaun tunggal dengan bentuk oval dan berwarna hijau ini bisa diolah dan dimanfaatkan menjadi produk terapan ataupun hiasan, hingga pupuk organik dan biogas.

Warga di bantaran sungai, tepatnya di belakang Kelurahan Pandang dan Kampung Buku, antusias menyambut lokakarya pengolahan eceng gondok, itu karena warga dekat dengan sumber bahan bakunya. Eceng gondok setiap saat melintas di depan rumah warga. Bahkan sungai di saat-saat buruknya tetap memberikan manfaatnya.

Ekha Nurul Hudaya

Foto: Ekha Nurul Hudaya

Sebuah kesempatan yang menyenangkan saya bisa terlibat dalam Bom Benang tahun ini, yang mendapuk tema “Benang dan Sungai”. Selama lebih dari satu bulan bertemu sungai, interaksi dengan warga yang bermukim di bantaran sungai, dan cerita yang terlontar dari anak-anak tentang sungai, ada banyak hal yang tim dan saya bisa temukan di lapangan.

Sabtu, 30 September menjadi hari pertama pelaksanaan lokakarya pengolahan eceng gondok bersama warga kelurahan Pandang yang bermukim di emperan Sungai Sinre’jala. Kesan pertama warga adalah takjub, tanaman gulma yang selama ini terbawa arus sungai melewati permukiman warga ternyata bisa diolah menjadi berbagai produk bernilai jual.

“Eceng gondok bagus tidak?” tanya saya pada Kadir yang memilin eceng gondok.

“Bagus, Kak. Ka lewat-lewat ji situ baru diambil, baru dijemur,” katanya.

Melalui eceng gondok, warga dan tim menjalin interaksi. Seperti benang yang menghubungkan orang dari berbagai latar belakang.

Saat kegiatan lokakarya, saya mendengar cerita dari Kadir, Yusuf, Dinda, dan Saharuddin mengenai keseharian mereka. Di hari-hari biasa, mereka akan bermain di pinggiran sungai, tapi lebih sering lagi mereka bermain di jalan. Dinda sendiri sudah enggan untuk bermain di bibir sungai karena air sungai teramat kotor menurutnya.

Kadir, siswa SMP dan juga peserta anak-anak yang paling besar di antara yang lainnya, mengaku pernah beberapa kali melihat buaya di seberang sungai. Topik tentang buaya seringkali menjadi cara jitu untuk memancing kedekatan dengan anak-anak.

Cerita tentang buaya sendiri tidak bisa lepas dari Sungai Sinre’jala. Mengunjungi perumahan warga di sepanjang sungai Sinre’jala, warga selalu punya pengalaman tersendiri tentang buaya di sungai. Penampakan buaya ini pula yang menjadi perhatian bagi orangtua agar mengawasi anak-anak untuk berhati-hati dengan sungai. Tidak jarang anak-anak dilarang bermain di sungai namun dibiarkan bermain di jalanan, meski tahu jalan juga tidak menawarkan secuil keamanan untuk anak-anak.[]

:: Ekha Nurul Hudaya, fasilitator tim Bom Benang 2017, mahasiswa Jurusan Sastra Inggris, Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *